Showing posts with label E-Book. Show all posts
Showing posts with label E-Book. Show all posts

Sunday, May 22, 2016

Resensi Sejarah Hidup Muhammad



Judul E-Book : Sejarah Hidup Muhammad
Penulis  Muhammad Husain Haekal
Penerbit : Litera AntarNusa dan Pustaka Nasional
Jumlah Halaman : 507 halaman
Link : http://pakdenono.com/ebook_islam/Sejarah-Hidup- Muhammad/Sejarah-Hidup- Muhammad.htm

Tidak mungkin orang dapat mengenal Islam dengan baik, jika tidak mengenal sejarah orang yang membawa Islam itu sendiri. Buku ini, Sejarah Hidup Muhammad, karya Muhammad Husain Haekal, terjemahan Ali Audah, terbitan PT Pustaka Litera Antar , merupakan studi mendalam dan cermat tentang sejarah hidup Muhammad Rasulullah dan diteliti dari sumber-sumber Islam maupun dari sumber-sumber non-Islam yang penting.

Muhammad sebagai manusia dan sebagai rasul dibicarakan dengan seksama. Dalam peristiwa yang sangat kritis, di sana sini penulis terpaksa berhadapan dengan pikiran awam dan sekaligus dengan tanggapan penulis-penulis luar Islam. Semuanya itu dikemukakan dengan hati-hati dan logis. Dimulai dengan dua buah kata pengantar yang menilai tanggapan penulis-penulis Islam maupun yang non-Islam tentang beberapa masalah sekitra pribadi Rasulullah, kemudian penulis memulai telaahnya dalam dua bagian khusus tentang masyarakat arab pra_Islam. Kata pengantar ini mempunyai nilai sendiri yang perlu sekali kita baca. Kelahiran Muhammad, Masa Anak-anak, Waktu remaja, Turunnya wahyu pertama, Perjuangan selanjutnya sampai pemakaman Rasul, dilukis secara jelas dan rinci, tetapi tidak bertele-tele.

Resensi The Choice Dialog Islam & Kristen



Judul E-Book : The Choice Islam and Christianity.
Penulis : Ahmed Deedat
Jumlah Halaman : 490 Halaman
Link : http://www.slideshare.net/antonhillman/the-choice- ahmad-deedat- dialog-islam- kristen

Buku ini merupakan terjemah dari Buku yang di tulis oleh salah seorang Kristolog terkemuka Ahmed Deedat, judul bukunya The Choice Islam and Christianity.
Ahmad Hoosen Deedat lahir di surat, india pada tahun 1918, ia tidak dapat berkumpul dengan ayahnya sampai tahun 1926, ayahnya adalah seorang penjahit yang karena profesinya hijrah bermigrasi ke arika Selatan tidak lama setelah kelahiran Ahmed Deedat.
Tanpa pendidikan formal dan untuk menghindar dari kemiskinan yang sangat pedih Ahmed Deedat pergi ke afrika selatan untuk dapat hidup bersama ayahnya pada tahun 1927. Perpisahan deedat dengan ibunya pada tahun kepergiaannya ke afrika selatan menyusul ayahnya itu adalah saat terakhir ia bertemu ibunya.
Di negeri yang asing, seorang anak laki-laki kecil ini tanpa bekal pendidikan formal dan penguasaan bahasa inggris mulai menyiapkan peran yang harus dimainkannya berpuluh-puluh tahun kemudian tanpa disadarinya. Dengan ketekunannya dalam belajar ia tidak hanya berhasil mengatasi hambatan bahasa tetapi juga unggul di sekolahnya.
Pada tahun 1936 sewaktu ia bekerja pada toko muslim di dekat sebuah sekolah menegah kristen di pantai selatan natal, penghinaan yang tak henti-hentinya dari siswa misionaris menantang islam selama kunjungan mereka ke toko menanamkan keinginan yang membara pada diri anak muda tersebut untuk melakukan aksi menghentikan propaganda mereka yang salah.
Ahmad Deedat kemudian menemukan sebuah buku berjudul izharul haq yang berarti mengungkapkan kebenaran, buku ini berisi teknik-teknik dan keberhasilan usaha-usaha umat islam di india yang sangat besar dalam membalas gangguan misionaris kristen selama penaklukkan inggris dan pemerintahan india. Secara khusus ide untuk menangani debat telah berpengaruh besar dalam diri Ahmad Deedat.
Daftar Isi:
The Choice
 "Dialog Islam - Kristen"
Pengarang Buku
JILID I :
BAGIAN 1 : Apa Yang Dikatakan Injil Tentang Muhammad SAW
01 Pertemuan Besar Pertamaku
02 Delapan Argumen yang Tak Terbantahkan
03 Bukti Lebih Lanjut
04 Perjanjian Baru yang Membenarkan
BAGIAN 2 : Muhammad Pengganti Alamiah Kristus
05 Utusan Terakhir
06 Dalam Firman Tuhan
07 Muhammad adalah "PARACLETE"
08 Petunjuk Total
09 Pemenuhan Ramalan
10 Hukum Ke-Ekstrimisan/Sifat Salah?
BAGIAN 3 : Muhammad Manusia Paling Agung Lelaki Teragung
11 Pilihan Semua Orang
12 Sejarah Masa Lalu
13 Agama yang paling Cepat Pertumbuhannya
BAGIAN 4 : Al-Quran Sebuah Muk'jizat
14 Sebuah Tantangan Abadi
15 Ilmu Pengetahuan & Wahyu Tuhan
16 Al-Quran benar-benar Unik Pencatatanya
17 Kitab Telegram Yang Penuh Mukjizat
18 Tuhan Unik Dalam Sifat Sifatnya
JILID II :
BAGIAN 1 : Ahli Kitab
19 Sasaran Pertama
20 Beralih Menguasai
21 INJIL, Bunga Rampai Inces (Perzinahan)
22 Pengujian Wahyu
23 Pornografi
BAGIAN 2 : Comba Kit menghadapi para Penginjil
24 Bagaimana Mempergunakan Combat Kit
BAGIAN 3 : Apakah Injil Firman Tuhan ??
25 Apa Yang Dikatakan Mereka
26 Sikap Umat Islam
27 Berbagai versi Injil
28 Lima Puluh Robu Kesalahan
29 Pengakuan yang Memberatkan
30 Kitab Kristen Perjanjian Baru
31 Batu Ujian
32 Kesaksian yang Paling Objective
33 Silisilah Yesus

BAGIAN 4 : Crucifixion (Penyaliban) atau Cruci-Fiction (Kisah Penyaliban)
34 Satu Satunya Nilai Jual
35 Panggil Saksi Saksimu
36 Mendirikan Kerajaan Tuhan
37 Persiapan Untuk Jihad
38 Kebijakan atau Keberanian
39 Pengadilan Terhadap Yesus
40 Metode Penyaliban
41 Cara Tuhan Bukanlah Cara Kita
42 Kebangkitan Kembali Setiap Hari
43 Simpati Untuk Yesus
44 Mengapa Memakai Tanda Kutip ? ""
45 Para Murid Tidak Percaya
46 Yesus Bukan Hantu
47 Yesus Tidak Dibangkitkan Kembali
48 Satu Satunya Mukjizat Yang Dijanjikan
49 Perhitungan Yang Sederhana
50 Kitab Suci Buatan
51 Tak Seorangpun Sebuta Itu
52 Penyaliban atau Sandiwara Penyaliban




Resensi La Tahzan!



Judul E-Book : La Tahzan!
Penulis : Dr. ‘Aidh al-Qarni
Jumlah Halaman : 124 Halaman
Penerbit : Qisthi Press
Link : http://ddhongkong.org/wp-content/uploads/2011/02/la- tahzan.pdf

Seiring berjalannya waktu manusia pada masa kini lebih banyak mengeluh tentang keadaan diri dan selalu menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada dirinnya tanpa menyadari bahwa apa yang terjadi pada dirinya itu adalah atas dasar kesalahan yang dia lakukan tanpa dia sadari dan sugesti yang meyakinkan diri manusia merasa tidak aman dan nyaman dengan keberadaannya, untuk itulah menurut saya mengapa penulis ini memiliki tujuan untuk membuat buku ini karena buku ini adalah perantara lain yang dikategorikan sebagai tempat untuk mencerahkan hati, menawarkan terapi dari penjelasan-penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang menjadikan buku ini sebagai resep yang manjur untuk digunakan sebagai perantara untuk membersihkan hati dan menghilangkan kesedihan dalam hidup dengan cara bersyukur dan selalu berfikiran positif terhadap apa yang kita dapatkan. Tujuan mengapa buku ini di tulis adalah agar si pembaca menyadari bahwa apa yang telah ia dapatkan adalah hasil dari apa yang ia lakukan, serta agar memahami bahwa hidup ini harus di jalani dengan penuh rasa syukur bukan malah dengan cara bersedih hati, maka dari itu penulis menyelipkan ratusan tips bagi si pembaca bagaimana cara agar jangan bersedih maka dari itu penulis menuliskan judul pada buku ini “Laa Tahzan” yang di ambil dari bahasa arab yang artinya jangan bersedih. Sebenarnya buku ini di tuliskan oleh seorang dokter yang berasal dari Saudi Arabia yang bernama DR.’Aidh al-Qarni, karna buku ini di terima luas di kalangan masyarakat karna penyampaian penulisnya dengan gaya bahasa yang mengalir dan lugas maka dari itu banyak penerjemah dari berbagai Negara yang mencetak ulang buku ini dengan persetujuan pemilik sah buku “Laa Tahzan” dalam semua versi bahasa. Buku yang berjudul “Laa Tahzan” ini adalah buku terlaris namun bukan karna hal lain melainkan karna dalam buku ini mengandung manfaat yang banyak bagi pembaca, dengan menyentuh hati sehingga para pembaca menjadi tersadar kembali untuk memperbaiki kehidupan yang selama ini di jalani, secara tidak langsung

Sumber :
http://www.kompasiana.com/www.elsareawaruw.com/laa-tahzanresensi_551772e7813311a0669de888


Resensi Mengapa Partai Islam Kalah?


Judul  : Mengapa Partai Islam  Kalah?
Penulis : Deliar Noer
Penerbit : Alvabet
Waktu Terbit : Oktober 1999
Halaman : 376

            Kekalahan partai-partai politik Islam benar-benar telak. Dari 17 partai politik Islam yang lolos seleksi pemilu 1999, hanya PPP yang meraih suara signifikan. Perolehan PBB jauh di bawah dugaan. Partai Keadilan Sejahtera hanya mendapat 7 kursi DPR, dan akan terus terlikuilidasi untuk pemilu 2004. Mungkin hasil pemilu ini merupakan sinyal yang jelas bahwa mayoritas Muslim sudah tidak lagi menganggap penting simbol-simbol Islam dalam politik, dan lebih peduli pada substansi.
            Pada bab pertama dalam buku ini akan dimulai dengan membahas mengenai pro-kontra partai Islam. Pada zaman orde lama, menuntut keadilan itu kontra-revolusi. Sedangkan pada zama orde baru, menuntut keadilan itu dilarang.
            Agama (Islam) itu memiliki dimensi yang banyak, namun dalam politik hanya memiliki dimensi tunggal, yaitu dimensi rasional. Agama terdiri dari akidah, akhlak, ibadah, syariah, dan muamalah. Dalam muamalah terletak politik. Muamalah harus diperinci lagi menjadi politik, ekonomi, sosial, kesenian, pendidikan, kelas, perkumpulan, dan sebagainya. Dalam kegiatan ekonomi, mendirikan perusahaan tidak diatur agama. Dalam kesenian, jadi ekspresionis atau impresionis tidak diatur agama. Dalam pendidikan dan masyarakat pun juga tidak diatur agama. Demikian pula dengan politik, di masa lalu ikut PPP, atau Golkar, atau PDI, tidak di atur agama. Politik hanya bagian yang sangat kecil dari agama.
Pada bab kedua menguraikan kiprahan partai politik Islam dalam Pemilu 1999. Runtuhnya rezim Orde Baru di samping meninggalkan kehancuran seperti ekonomi yang centang-perenang juga membawa banyak berkah. Setelah tiga puluh tahun eksistensi partai politik Islam di pinggirkan dan diperas ke hanya satu partai, yaitu PPP, sekarang ini ibarat “Musim Tanam” bagi berdirinya partai Islam. Sejalan dengan ramainya pendirian partai, tanggapan pro-kontra pun muncul. Mereka yang pro berargumen bahwa munculnya partai politik Islam merupakan suatu yang tidak terhindarkan seiring dengan melajunya iklim reformasi. Sementara mereka yang bersebrangan pendapat menilai partai politik Islam merupakan ancaman bagi kemajemukan bangsa.
Pada bab selanjutnya yaitu bab tiga membahas mengenai kekalahan partai politik Islam. Dan untuk bab empat mengulas tentang partai politik Islam pasca pemilu 1999. Pada bab ini juga dibahas mengenai evaluasi dari partai politik Islam yang kalah pada pemilu 1999. Kondisi sekarang, pemahaman umat akan politik Islam sangatlah dangkal. Akibat rekayasa Orde Lama dan Orde Baru, secara ideologi dan politik, umat terjauhkan dari pemahaman Islam. Pembinaan ke-Islaman terjerumus pada pembinaan yang sifatnya individual, akhlak, ibadah ritual. Jadi diduga umat tidak akan banyak terlalu mempehatikan faktor agama dalam politik. Tidak terlalu peduli apakah parpol itu berideologi Islam atau sekuler.
Maka dari itu buku ini hadir untuk menyadarkan umat muslim di Indonesia betapa pentingnya agama Islam dalam politik. Buku ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami jadi cocok dibaca untuk semua kalangan umur. 
            

Resensi Gerakan Ahmadiyah di Indonesia

Judul  : Gerakan Ahmadiyah di Indonesia
Penulis : Iskandar Zulkarnain
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Waktu Terbit : September 2005
Halaman : 342 halaman

            Kasus kekerasan terhadap anggota Ahmadiyah di berbagai daerah seperti Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan lainnya beberapa bulan terakhir membuktikan bahwa “main hakim” sendiri masih menjadi modus operandi kelompok Islam dominan dalam menyelesaikan persoalan internal umat Islam. Yang lebih parah, kelompok Islam moderat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, seolah buta dan bisu menyaksikan sebagian umat Islam yang lain paham itu dianiaya tanpa ada pembelaan. Kasus ini dianggap “angin lalu” yang tidak perlu diperhatikan. Yang menarik, meski anggota Ahmadiyah “dianiaya tiada henti” oleh mereka yang mengklaim umat Islam Indonesia, mereka tetap tidak terpancing untuk melawan dengan kekerasan pula. Mengapa demikian? Karena dalam doktrin Ahmadiyah, kekerasan tidak boleh dilakukan baik untuk alasan dakwah ataupun lainnya. Bagi mereka, jihad lebih berarti menggunakan pena, daripada menggunakan parang, pedang, dan senjata yang dekat dengan kekerasan lainnya. Tidak mengherankan, jika mereka justru menempuh jalur hukum untuk menghadapi kelompok Islam yang gemar melakukan kekerasan itu. Buku Gerakan Ahmadiyah di Indonesia ini memaparkan secara komprehensip asal muasal gerakan Ahmadiyah di India, perkembangan Ahmadiyah di Indonesia sejak tahun 1920-1942, berbagai strategi dan gerakan Ahmadiyah di Indonesia, dan perkembangan mutakhir tentang Ahmadiyah di Indonesia. Buku ini terbit pada momentum yang sangat tepat, di saat anggota Ahmadiyah Indonesia di berbagai daerah mengalami ketakutan, dan kekhawatiran karena serangan dan kekerasan yang bisa menimpa mereka kapan saja. Buku ini mengisi kekosongan tentang Ahmadiyah yang selama ini banyak disalahpahami orang. Di satu sisi, banyak orang tidak tahu betul bagaimana sebenarnya Ahmadiyah dan doktrin-doktrinnya, di sisi lain pada kenyataanya aparat kepolisian dan pemerintah tidak mampu melindungi anggota Ahmadiyah yang teraniaya itu. Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena negara membiarkan antarkelompok intraagama “berbaku hantam” tanpa ada mekanisme hukum yang mampu menjembati dan menyelesaikannya.
Secara historis, berdirinya Ahmadiyah tidak terlepas dari sejarah Mirza Ghulam Ahmad sebagai pendiri gerakan ini. Mirza lahir pada 13 Pebruari 1835 di desa Qodian Punjab, India dan meninggal tahun 1908 di Lahore. Ia memiliki darah ningrat, karena ia keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh yang merupakan paman Amir Tughlak Temur, dinasti Mughal. Gerakan Ahmadiyah lahir di India pada tahun 1888. Sesudah India menjadi koloni Inggris, umat Islam India semakin terisolasi dengan sikap-sikap lama (baca: konservatif) yang masih dipelihara. Keadaan umat Islam India ini semakin buruk terutama sesudah terjadi pemberontakan Mutiny tahun 1857 masehi. Titik pijak kelahiran Ahmadiyah dimulai ketika umat Islam India mengalami kemunduran dalam bidang agama, politik, ekonomi, dan lainnya.Menurut Wilfred Cantwell Smith, Ahmadiyah lahir di tengah huru-hara runtuhnya masyarakat Islam lama dengan sikap yang baru, karena infiltrasi budaya (dari Inggris), serangan gencar kaum misionaris Kristen, dan berdirinya Universitas Aligarh. Ahmadiyah lahir sebagai protes terhadap keberhasilan kaum missionaris Kristen memperoleh pengikut-pengikut baru dan serangan Hindu (Arya Samaj). Selain itu, juga sebagai protes terhadap paham rasionalis dan westernisasi yang dibawa Sayyid Ahmad Khan dengan Aligarhnya. Selain itu, secara internal umat Islam pada masa itu baik di India maupun luar India berada kondisi yang memprihatinkan. Sikap jumud dan fatalistik membuat umat Islam statis sehingga umat Islam mengalami kemunduran termasuk dalam bidang keagamaan. Dalam konteks ini, Ahmadiyah lahir sebagai protes atas kemorosotan Islam pada saat itu yang sebagai besar di bawah kungkungan kolonialisme negara-negara Barat. Mirza Ghulam Ahmad melakukan pembaruan Islam dalam hal sebagai berikut: masalah kematian Nabi Isa a.s. (al-Mahdi dan al-Masih), masalah mujaddid, masalah wahyu, masalah kenabian, masalah khilafat, dan masalah Jihad.
Dalam perkembanganya, Ahmadiyah “pecah” menjadi dua, yakni Ahmadiyah Qodian dan Ahmadiyah Lahore. Gerakan Ahmadiyah Lahore di Indonesia dipandang lebih dekat dengan golongan sunni, karena menyakini bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi terakhir, dan sesudahnya tidak ada Nabi lagi, baik nabi baru maupun nabi lama. Posisi Mirza Ghulam Ahmad bagi Ahmadiyah Lahore hanya sebagai pembaru (reformer), bukan seorang nabi. Sedangkan Ahmadiyah Qadian berkeyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad meninggal, masih akan tetap muncul nabi-nabi lain sampai hari akhir. Nabi-nabi yang muncul setelah Nabi Muhammad disebut sebagai nabi buruzi, yaitu nabi yang tidak membawa syariat. Mirza Ghulam Ahmad sendiri percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah serta sangat percaya Nabi Muhammad Saw. adalah khatam al-anbiya. Ajaran Ahmadiyah kini memiliki sekitar 200 juta pengikut setia di seluruh dunia. Di Indonesia diperkirakan tak kurang dari 500 ribu Ahmadie—sebutan untuk pengikut Ahmadiyah. Aliran Ahmadiyah Qadian di Indonesia memang lebih berkembang dari segi anggota. Kampus Mubarok di Bogor yang diserang suatu kelompok Islam beberapa waktu lalu itu merupakan pusat penyebaran Ahmadiyah Qadian di Indonesia. Sedangkan aliran Ahmadiyah Lahore mendirikan organisasi Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang berpusat di Yogyakarta.
Ahmadiyah masuk ke Indonesia melalui pelajar Sumatera yang belajar di India dan kembali ke Indonesia sekitar tahun 1925. Mereka ini membawa tafsiran baru terhadap Al-Qur’an yang rasional. Karya-karya pemikir Ahmadiyah mulai menjadi bahan bacaan yang menarik. Sampai-sampai Haji Agus Salim (tokoh Sarekat Islam) menyatakan bahwa dari segala jenis tafsir Al-Qur’an, tafsir Ahmadiyalah (baca: The Holy Qur’an karya Maulana Muhammad Ali) yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia terpelajar. Kegiatan Ahmadiyah menyebar di berbagai daerah seperti Yogyakarta, Bogor, Tasikmalaya, Sukabumi, Banjarnegara, Wonosobo, Kuningan, Lombok Timur, Purwokerta dan daerah lainnya. Sebagai gerakan dakwah, Ahmadiyah menitik beratkan aspek spiritual Islam yang bersifat mahdiistis, yakni adanya suatu keyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah al-Mahdi atau “juru selamat” yang mengemban misi melenyapkan kegelapan, dan menciptakan perdamaian di dunia. Dalam berdakwah, Ahmadiyah menggunakan sikap yang sopan, santun, dan tidak suka menempuh jalan kekerasan. Media yang digunakan dakwah antara lain: penerbitan, penerjemahan Al-Qur’an ke dalam 100 bahasa, lembaga pendidikan, seminar, dialog, kajian buku dan televisi melalui Muslim Television Ahmadiyah (MTA/Ahmadiyah Qadian). Media yang terakhir ini terbilang sangat canggih, karena media elektronik itu mampu menjangkau kawasan seluruh dunia dan beragam latar belakang agama. Dalam berbagai kesempatan dakwah, orang-orang Ahmadie sangat percaya diri menyebarkan ajarannya dengan cara berdebat terbuka. Sehingga, iklim dialogis sebenarnya mereka miliki sebagian dari strategi dakwah. Buku ini berusaha mendedahkan segala yang mungkin masih menjadi misteri bagi banyak orang tentang doktrin-doktrin Ahmadiyah. Selain itu, ia juga mengungkap dengan tajam akar dan target gerakan Ahmadiyah, serta kiprahnya di Indonesia. Menurut Azyumardi Azra, buku ini merupakan buku pertama dalam bahasa Indonesia yang secara lengkap membahas gerakan Ahmadiyah di Indonesia, terutama dari sudut pandang sejarah. Meskipun sarat dengan literatur dan rujukan, buku ini cukup lancar berkisah tentang sepak terjang Ahmadiyah baik Qodian maupun Lahore, mulai dari awal kedatangannya di Indonesia hingga pengujung abad ke-20. Membaca buku ini kita akan lebih dewasa dalam menyikapi gerakan Ahmadiyah di Indonesia yang akhir-akhir ini mereka yang menjadi “korban” serangan fisik dan psikologis dari kelompok Islam yang tidak toleran. Buku ini memang tidak berpretensi untuk mendukung atau menolak pihak-pihak yang pro dan kontra, melainkan untuk mendudukkan secara proporsional pemikiran dan gerakan Ahmadiyah dalam peta pemikiran dan gerakan keislaman di Indonesia. Pesan utama buku ini bahwa kita harus menghormati dan menghargai perbedaan tafsir terhadap Al-Qur’an, yang berimplikasi pada keyakinan yang berbeda.



Resensi Filsafat dan Metafisika dalam Islam

Judul  : Filsafat dan Metafisika  dalam Islam
Penerbit: Pustaka Narasi
Waktu Terbit : 2008
Halaman : 256
           
Sebelum menjelaskan lebih jauh mengenai filsafat Islam, penulis buku ini menjelaskan terlebih dahulu pengertian, lapangan filsafat, obyek pembicaraan filsafat, lapangan filsafat Islam, pencakupan filsafat Islam terhadap Ilmu Keislaman yang lain, kemudian baru dijelaskan mengenai filsafat Arab atau filsafat Islam. Dalam bab pertama ini dijelaskan dari sub bab pengertian hingga sub bab filsafat Arab atau filsafat Islam, agar para pembaca mudah memahami secara menyeluruh. Bab pertama ini sebagai pembuka atau pengantar untuk bab-bab selanjutnya. Jadi, agar memahami bab-bab setelah bab pertama maka harus memahami terlebih dahulu bab pertama.
Setelah sekian banyak mengutip pengertian filsafat dari beberapa tokoh filsafat, K.H. Muhammad Sholikhin menyimpulkan bahwa pengertian filsafat ialah ilmu tentang wujud-wujud melalui sebab-sebabnya yang jauh. Yakni pengetahuan yang yakin yang sampai kepada sebab-sebabnya sesuatu. Ilmu terhadap wujud-wujud tersebut adalah bersifat keseluruhan, bukan bersifat terperinci menjadi (garis kecilnya), karena pengetahuan secara terperinci menjadi lapangan ilmu-ilmu nyata.
Sedangkan dalam penjelasan lapangan filsafat Islam, K.H. Muhammad Sholikhin tidak memberi penjelasan dari dirinya akan tetapi hanya mengutip dari beberapa tokoh filosuf-filosuf muslim, diantaranya al-Kindi, al-Farabi, Ikhwanushafa dan Ibnu Sina. Dari beberapa filosuf muslim ini, hanya Ikhwanushafa yang memberikan penjelasan lebih banyak dalam lapangan filsafat Islam termasuk cabangnya. Ada empat lapangan filsafat Islam menurut Ikhwanushafa, yaitu matematika, logika, fisika, dan ilmu ketuhanan. Ilmu ketuhanan mempunyai bagian-bagian, yaitu: mengetahui Tuhan, ilmu kerohanian, ilmu kejiwaan, ilmu politik yang mencakup politik kenabian, politik pemerintahan, politik umum, politik khusus, politik pribadi (Akhlak), dan ilmu keakheratan.
Penjelasan mengenai filsafat Arab atau filsafat Islam, penulis buku ini memaparkan terlebih dahulu pendapat tokoh-tokoh yang sepakat dengan penamaan filsafat Arab dan yang sepakat dengan penamaan filsafat Islam. Lalu K.H. Muhammad Sholikhin memberikan argumentasinya dan memilih penamaan filsafat Islam dianggap lebih tepat. Alasannya menginggat bahwa Islam bukan saja sekedar agama, tetapi juga kebudayaan. Pemikiran filsafat sudah barang tentu terpengaruh oleh kebudayaan Islam tersebut, meskipun pemikiran tersebut adalah Islam, baik dalam problem-problemannya, motif pembinaannya maupun tujuannya, karena Islam telah memadu dan menampung aneka kebudayaan serta pemikiran dalam satu kesatuan.
Dalam pembahasan selanjutnya dijelaskan mengenai bagaimana para ahli-ahli ketimuran (orientalis) memandang filsafat Islam. Dalam bab ini, K.H. Muhammad Sholikhin mengangkat beberapa nama orientalis yang mempunyai pendapat atas filsafat Islam. Antara lain, Tenneman, Renan, L. Gauthier, E. Brehier, dan Max Horten. Kemudian penulis buku ini meringkas dari apa yang telah disampaikan oleh para orientalis tersebut.
Filsafat Yunani sebelum Islam dijelaskan pula oleh K.H. Muhammad Sholikhin dalam buku ini. Hal ini dimaksudkan agar pembaca mengetahui secara umum mengenai filsafat Yunani. Karena sebelum filsafat Islam hadir, filsafat Yunani-lah yang hadir pertama kali sebagai cikal-bakal atas filsafat-filsafat yang lain. Bab ini menjelaskan tentang ciri khas fase Hellenisme, ciri khas fase Hellanisme Romawi, Neo Platonisme, Plotinus, dan penjelasan mengenai sifat-sifat akal, jiwa alam, dan alam materi pada zaman tersebut.
Bab selanjutnya mengenai persiapan berfilsafat pada kaum muslimin. Hal ini dilakukan dengan berbagai cara, antara lain penerjemahan buku-buku filsafat yaitu buku-buku Plato dan Aristoteles. Selain itu juga penerjemahan buku-buku Hellenisme Romawi, dan masa Neo Platonisme. Filsafat Yunani ini dapat diterima, karena ada keinginan untuk pemaduan filsafat di satu pihak dengan agama di lain pihak.
Bab-bab selanjutnya dalam buku ini mulai menjelaskan filsafat Islam yang diwakili oleh para filosuf muslim, diantaranya al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd. Tokoh-tokoh tersebut dijelaskan dari biografi, karya-karyanya, pemikiran filsafat tokoh tersebut, lalu kemudian dikomentari oleh penulis buku. Al-Ghazali dalam pandangan penulis buku ini, bukan termasuk sebagai filosuf karena ia menentang bahkan memerangi filsafat. Akan tetapi al-Ghazali telah mempelajari filsafat sedemikian rupa hingga dapat mengkritik para filosuf muslim dari segi pemikiran filsafat metafisika. Mungkin hal inilah yang menyebabkan al-Ghazali dimasukkan dalam pembahasan filosuf Islam.
Buku yang ditulis oleh K.H. Muhammad Sholikhin ini pada hakekatnya adalah pengantar filsafat Islam. Yang didalamnya dijelaskan secara singkat dan padat mengenai pengertian, ruang lingkup dan keadaan filsafat Yunani. Hal ini dimaksudkan hanya sebagai pengantar agar nantinya mudah memahami filsafat Islam. Maka buku ini, sangat tepat bagi para pelajar yang ingin meningkatkan wawasannya mengenai dunia filsafat, khususnya filsafat Islam. Tidak hanya dimiliki oleh mahasiswa bidang filsafat saja, tetapi dapat dimiliki mahasiswa lainnya karena sudah menjadi mata kuliah wajib di tiap jurusan perguruan tinggi.
Alasan mengapa al-Razi atau nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria al-Razi tidak dibahas dalam buku ini tidak ditemukan, padahal al-Razi adalah salah satu filosuf Islam yang terkenal. Dengan pemikirannya tentang falsafat lima kekal dan pemikiran-pemikran yang lainnya. Penggunaan bahasa yang kurang menarik, menjadi kekurangan dalam buku ini. Selain itu, sistematika penulisan juga terlihat belum rapi antara penulisan bab dan sub bab. Kendati demikian, buku ini secara “isi” sudah dapat menggambarkan sejarah filsafat Islam secara menyeluruh.


Resensi Jual Beli itu Berdasarkan Atas Rasa Suka Sama Suka



Judul E-Book           : Jual Beli Itu Berdasarkan Atas Rasa Suka Sama Suka
Penulis           : Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf
Tebal             : 9 halaman           

Jual beli berdasarkan atas rasa suka sama suka adalah sebuah kaedah umum yang menunjukkan bahwa semua bentuk transaksi yang dilaksanakan berdasarkan rasa suka sama suka maka itu diperbolehkan selagi tidak terdapat larangan dari Allah dan Rosul-Nya, namun jika bertentangan dengan larangan dari Allah dan Rosul-Nya meskipun dilaksanakan atas dasar suka sama suka maka itu jelas terlarang. Selain menjelaskan makna kaedah ini lebih lanjut, e-book yang ditulis oleh Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf ini juga menjelaskan pengecualian-pengecualian dari kaedah ini dengan sangat rinci sehingga mudah dipahami. Dalam memaparkan penjelasannya, penulis memberikan contoh serta hadits-hadits yang mendukung.

Resume Jual Beli Berdasarkan Atas Rasa Suka sama Suka
Asal kaedah ini diambil dari Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/737 no: 2185 dari jalan Abu Said Al Khudri. Berkata Al Bushiri dalam Az Zawaid: Sanadnya shohih dan para perowinya terpercaya. Juga dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalamShohih Ibnu Majah: 1792 dan Irwa: 1283. Yaitu:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Ø£َبَا سَعِيدٍ الْØ®ُدْرِÙŠَّ ÙŠَÙ‚ُولُ: Ù‚َالَ رَسُولُ اللَّÙ‡ِ صَÙ„َّÙ‰ اللَّÙ‡ُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„َّÙ…َ: Ø¥ِÙ†َّـمَا الْبَÙŠْعُ عَÙ†ْ تَرَاضٍ
Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata: Rosululloh bersabda “Sesungguhnya jual beli itu atas dasar suka sama suka.”
            Makna kaedah ini adalah semua bentuk transaksi yang dilaksanakan berdasarkan rasa suka sama suka maka itu diperbolehkan selagi tidak terdapat larangan dari Allah dan Rosul-Nya, namun jika bertentangan dengan larangan dari Allah dan Rosul-Nya meskipun dilaksanakan atas dasar suka sama suka maka itu jelas terlarang.
            Terdapat beberapa hokum yang dikecualikan dari kaedah di atas :
1.      Semua transaksi yang diharamkan oleh Allah dan rosul-Nya meskipun dilaksanakan dengan dasar suka sama suka
2.      Dalam keadaan tertentu boleh bagi pemerintah untuk mengambil paksa dan menyita harta seseorang apabila terdapat hal yang mengharuskan melakukan itu
3.      Begitu juga pemerintah boleh untuk tidak mensahkan transaksi seseorang meskipun dilaksanakan atas dasar suka sama suka kalau mengakibatkan kerugian yang sifatnya umum bagi yang lainnya
4.      Orang yang mempunyai hak atas orang lain, namun tidak ditunaikan

Resensi Pluralisme Agama Menurut Al-Qur'an dan MUI



Judul Jurnal            : Pluralisme Menurut Al Quran dan MUI
Penulis : Anan Bahrul Khoir
Tebal : 15 halaman

Sebagai Negara yang majemuk akan budaya, bahasa, dan suku, negara Indonesia juga dikenal sebagai Negara yang majemuk dalam hal agama. Hal ini membuat pluralisme muncul seiring dengan munculnya agama-agama baru. Pada saat ini di Indonesia ada 6 agama yang diakui secara sah oleh Negara yaitu, Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Hindu, Budha, dan Konghuchu. Semua masyarakat Indonesia hidup dengan berbagai macam perbedaan agama. Namun padahal ini masyarakat harus tetap menjunjung tinggi nilai pluralitas untuk saling menghargai dan menghormati apa yang telah dipilih oleh orang tersebut.
Dalam jurnal pdf ini yang ditulis oleh Anan Bahrul Koir salah satu mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung jurusan Perbandingan Agama. Dari jurnal pdf Anan ini ia menyusun sebuah tulisan yang sedang diperbincangankan banyak orang saat ini yaitu pluralitas agama. Dalam tulisannya Anan menyertakan semua kutipan-kutipan yang ia gunakan dalam menyusun jurnal studi Islam. Tulisan yang hanya 15 lembar ini namun berisi dengan materi yang benar-benar dapat kita pahami. Materi yang disampaikan Anan memiliki referensi yang baik dan dapat dipercaya.
Anan dalam tulisannya memberikan judul yaitu Puralisme Agama dalam Al Quran dan MUI. Dalam penjelasannya Anan memberikan gambaran-gambaran tenang bagaimana Al Quran memandang pluralism dan MUI memandang pluralism. Anan tidaklah menyalahkan MUI yang menolak pluralistas agama. Namun dalam hal ini Anan memberikan gambaran bagaimana kita sebagai pembaca menanggapi perbedaan pendapat tersebut.
Jurnal ini akan sangat bermanfaat bagi pembaca khususnya sebagai mahasiswa dalam menambah wawasan tentang pluralism agama yang tidak hanya memandangnya dengan satu sisi saja.

Resume Jurnal PDF Pluralisme Agama Menurut Al Quran dan MUI
Pluralisme berarti gagasan atau pandangan yang mengakui adanya hal-hal yang sifatnya banyak atau berbeda-beda (heterogen) di suatu komunitas masyarakat. Juga pluralism berarti suatu kerangka interaksi yang mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi. Sedangkan agama adalah sesuatu yang tidak kacau (teratur).
Maka pluralisme agama adalah suatu keragaman agama yang terkumpul dalam suatu masyarakat tertentu yang menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi.
Sedangkan pluralisme agama menurut John Hick26, penggagas pluralisme agama bagi kaum Nasrani, yaitu, “Menurut pandangan fenomenologis, terminology pluralisme agama arti sederhananya ialah realitas bahwa sejarah agama-agama menunjukkan berbagai tradisi serta kemajemukan yang timbul dari cabang masing-masing agama.”
Di dalam al-Qur’an sendiri terdapat ayat-ayat yang bertemakan mengenai pluralism agama, di antaranya:
1) Tidak ada paksaan dalam beragama;
2) Pengakuan atas eksistensi agama-agama;
3) Kesatuan kenabian; dan
4) Kesatuan pesan ketuhanan.
MUI mengharamkan pluralisme agama karena dianggap menyamakan semua agama; karena Islam oleh Islam dianggap sebagai agama yang benar dan yang lain adalah salah, maka pemahaman menyamakan kebenaran semua agama adalah salah.
                                                                                                                        


Resensi The Early Caliphate (Khulafa-ur-Rasyidin)



Judul Jurnal            : The Early Caliphate (Khulafa-ur-Rasyidin)
Penulis : Muhammad Ali
Tebal : 266 halaman

Sejarah merupakan suatau hal yang tidak seharusnya kita lupakan. Terutama sejarah dalam peradaban Islam sehingga menjadi Islam yang seperti saat ini. Dalam perkembangannya peradaban Islam memiliki perubahan dan berkembang semakin maju walaupun adakalanya mengalami situasi yang tidak diharapakan.
Jurnal ini ditulis oleh Muhammad Ali. Dalam jurnalnya Muhammad Ali membahas mengenai peradaban Islam masa Khulafaur Rasyidin yang memang seharusnya dapat kita ingat hingga saat ini. Muhammad Ali menjelaskan secara lengkap dan rinci dalam setiap masa-masa khulafaur rasyidin. Dari mulai dipilihnya khalifah baru, halangan-halangan khulafaur rasyidin dalam memimpin umat hingga kejayaan yang diraih oleh setiap khulafaur rasyidin. Hingga wafatnya khalifah satu dan digantikan dengan yang lainnya.
Lebih jelasnya jurnal ini dilengkap dengan catatan kaki sebagai keterangan-keterangan yang tidak dapat dipahami oleh sebagian pembaca sehingga membuat jurnal ini menjadi lebih mudah dipahami.
Jurnal PDF ini tidak menyisakan tanda tanya besar karena dikemas begitu apik. Sehingga dengan pemahaman yang benar maka pembacaakan benar-benar mengerti dan memahami serta dapat memaknai nilai yang terkandung di dalamnya. Namun dalam hal ini tidak banyak orang yang begitu tertarik dengan vahan bacaan yang terkesan sedikit monoton. Karena pada jurnal ini tidak terlalu banyak hal menarik yang ditonjolkan penulis untuk menarik minat pembaca melainkan isi yang disampaikan yang begitu sangat bermakna tetapi, pada zaman sekarang ini kebanyakan khalayak ingin membaca sebuah tulisan yang menarik bukan hanya pada isinya tetapi yang paling utama adalah penampilan dari bacaan tersebut. Pada jurnal ini tidak memiliki gambar atau pun warna yang menarik karena isinya hanyalah sebuah paragraf yang penuh dengan tulisan-tulisan yang lama kelamaan akan membuat bosan pembaca.
Namun pada akhirnya jurnal ini akan tetap dicari olehorang-orang yang benar-benar membutuhkan ilmu yang ada di dalamnya. Karena jurnal pdf ini sangat bagus untuk dibaca sebagai suatu referensi selain itu sebagai pengingat tentang perkembangan peradaban Islam masa-masa khulafaur rasyidin.

Resume Isi Jurnal PDF
Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, khalifah dipilih berdasarkan musyawarah. Setelah Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar diangkat menjadi khalifah melalui pertemuan saqifah atas usulan umar. Problem besar yang dihadapi Abu Bakar ialah munculnya nabi palsu dan kelompok ingkar zakat serta munculnya kaum murtad Musailimah bin kazzab beserta pengikutnya menolak. Membayar zakat dan murtad dari islam yang mengakibatkan terjadinya perang Yamamah. Pasukan islam dipimpin Khalid bin Walid berusaha menumpas kaum ingkar zakat yang dipimpin Musailamah bin Kazzab tersebut hingga mengakibatkan banyak sahabat yang gugur termasuk 70 penghafal Al-Qur’an. Perang tersebut terjadi pada tahun 12 H.
Umar yang tahu akan hal itu merasa khawatirakan kelestarian Al-Qur’an hingga dia mengusulkan kepada Abu Bakar agar membukukan/mengumpulkan mushaf yang ditulis pada masa nabi menjadi satu mushaf Al-Qur’an. Mushaf yang sudah terkumpul disimpan oleh Abu Bakar, ketika Abu Bakar sakit dia bermusyawarah dengan para sahabat untuk menggantikan beliau menjadi khalifah pada masa Umar gelombang exspansi pertama terjadi. Umar membagi daerah kekuasaan islam menjadi 8 propinsi yaitu : Makkah, Madinah, Syiria, Basrah, Kofah, Palestina, dan Mesir. Umar membentuk panitia yang beranggotakan 6 orang sahabat dan meminta salah satu diantaranya menjadi khalifah setelah Umar wafat. Panitia berhasil mengangkat Utsman menjadi khalifah. Pada masa pemerintahan utsman wilayah islam meluas sampai ke Tripoli barat, Armenia dan Azar Baijan hingga banyak penghafal Al-Qur’an yang tersebar dan tarjadi perbedaan dialek, yang menyebabkan masalah serius. Utsman membentuk tim untuk menyalin Al-Qur’an yang telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar, tim ini menghasilkan 4 mushaf Al-Qur’an dan Utsman memerintahkan untuk membakar seluruh mushaf selain 4 mushaf induk tersebut.
Utsman dibunuh oleh kaum yang tidak puas akan kebijakannya yang mengangkat pejabat dari kaumnya sendiri (Bani Umayah). Setelah Utsman wafat umat islam membaiak Ali menjadi khalifah pengganti utsman, kaum Bani Umayah menuntut Ali untuk menghukum pembunuh Utsman, karena merasa tuntutannya tidak dilaksanakan Bani Umayah dibawah pimpinan Mu’awiyah memberontak terhadap pemerintahan Ali. Perang Sifin mengakibatkan perpecahan pada kelompok Ali. Di penghujung pemerintahan Ali umat islam terpecah menjadi tiga golongan, yaitu, Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut Ali), dan Khawarij (orang yang keluar dari barisan Ali). Setelah Ali meninggal, ia diganti oleh anaknya, Hasan. Hasan mengadakan perundingan damai dengan Mu’awiyah dan umat islam dikuasai oleh Mu’awiyah. Dengan begitu berakhirlah pemerintahan yang berdasarkan pemilihan (khulafaur rasyidin) berganti dengan sistem kerajaan).

Sumber: